Aktualisasi Uswatun Hasanah Sang Khalilullah dalam Mewujudkan Masyarakat Simeulue yang Madani

Oleh : Ansaruddin, S.Pd.I., M.Pd.
Idul Adha 1446 H kembali menyapa, membawa serta gema takbir yang mengagungkan kebesaran Allah SWT. Momen suci ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah kesempatan reflektif bagi seluruh umat Islam di penjuru dunia. Terlebih khusus bagi kita di Simeulue, Idul Adha mengundang kita untuk menyelami makna mendalam dari pengorbanan dan keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Sang Khalilullah atau Kekasih Allah, dalam rangka mengaktualisasikan uswatun hasanah (suri teladan yang baik) demi mewujudkan masyarakat Simeulue yang madani.
Kurban: Bukan Sekadar Penyembelihan Hewan, Melainkan Penyembelihan Sifat Kebinatangan Diri.
Inti dari perayaan Idul Adha adalah ibadah kurban, sebuah manifestasi ketaatan mutlak kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2). Namun, esensi kurban jauh melampaui ritual penyembelihan fisik semata. Ia adalah simbol penyembelihan sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita: keserakahan, kemalasan, ketamakan, dan segala bentuk akhlak tercela. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu” (QS. Al-Hajj: 37). Ayat ini menegaskan bahwa yang diutamakan bukanlah aspek material, melainkan nilai ketakwaan yang terinternalisasi dalam diri pekurban. Hewan kurban yang kita persembahkan akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT pada hari kiamat, lengkap dengan tanduk, kuku, dan bulunya, membela kita atas ketaatan dan syukur yang telah kita tunjukkan.
Belajar dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: Arsitek Kesuksesan Sejati dan Fondasi Masyarakat Madani.
Konsep ketakwaan yang menjadi inti kurban ini dapat kita telaah lebih jauh melalui figur Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang prototipe insan sukses yang telah “selesai dengan dirinya”. Kesuksesan beliau bukan hanya mencakup kemenangan (al-ghafr), kejujuran (as-sidq), dan kebajikan (al-khair), tetapi juga dibentuk oleh serangkaian ujian berat yang beliau hadapi dengan ketangguhan dan tanpa keluh kesah. Beliau diuji dengan bapaknya yang tidak beriman, kaumnya yang menyembah berhala, pengusiran dari kampung halaman, pembakaran oleh Raja Namrud, hingga perintah menyembelih putra tercintanya, Ismail. Namun, setiap penderitaan dikonversi menjadi peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Beliau tidak takut kekurangan atau kehilangan; yang beliau takutkan adalah lenyapnya iman.
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengajarkan kita resep fundamental dalam membangun masyarakat yang madani. Doa beliau yang termaktub dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. Al-Baqarah: 126), secara gamblang menunjukkan dua pilar utama pembangunan masyarakat madani:
- Keamanan (baladan āminan): Ketertiban, keamanan, dan kedamaian adalah prasyarat utama bagi kemajuan sebuah negeri. Tanpa kondisi yang aman, potensi masyarakat tidak akan dapat berkembang optimal.
- Ekonomi (warzuq ahlahu minats tsamarāt): Setelah keamanan terjamin, pilar berikutnya adalah ekonomi. Kedamaian tidak akan bermakna jika perut lapar dan ekonomi berantakan. Keamanan dan ekonomi adalah dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan.
Bagi Simeulue, resep ini dapat dijadikan strategi kunci untuk membangun masyarakat madani yang mampu mengubah kesulitan menjadi kemudahan dan penderitaan menjadi kesuksesan.
Semangat Al-Itsaar: Mendahulukan Orang Lain di Tengah Kebutuhan.
Selain ketakwaan dan fondasi keamanan-ekonomi, pelajaran penting lainnya dari Idul Adha adalah semangat al-itsaar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan ketika diri sendiri berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan (khashashah). Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, meskipun dikenal sangat kaya dengan ribuan ternak, tidak pernah memamerkan kekayaannya. Beliau menganggap semua hartanya sebagai titipan Allah yang siap dikorbankan demi-Nya. Ini sangat kontras dengan budaya “flexing” di era digital saat ini, di mana banyak orang memamerkan harta demi pencitraan. Mindset muslim sejati adalah tidak terikat pada harta kekayaan, sehingga mampu berpikir besar demi kemaslahatan bersama, bukan hanya berdasarkan untung rugi secara ekonomi.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: Teladan Multidimensi untuk Kehidupan Modern.
Allah SWT telah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai uswatun hasanah (suri teladan yang baik). Berbagai gelar mulia disandangnya: Khalilullah (kekasih Allah), Ummah (pemimpin yang hanif), orang pilihan yang mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, dan Shiddiqan Nabiyyah (nabi yang jujur, pembuka jalan tauhid dan tawakal). Beliau adalah sumber awal pembelajaran tauhid, tawakal, cinta kepada Allah, dan bahkan agama Islam, haji, dan puasa bermula dari ajarannya. Rasulullah SAW sendiri bersabda, “Aku adalah perwujudan dari doanya bapakku Ibrahim” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak hanya dalam akidah dan kepemimpinan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga menjadi teladan dalam mendidik anak dengan pendekatan dialogis, seperti yang ditunjukkan saat perintah menyembelih Nabi Ismail (QS. Ash-Shaffat: 102). Pendekatan ini relevan dengan konsep learning with parents (belajar bersama orang tua) dalam pendidikan modern, menunjukkan bahwa keteladanan beliau relevan di berbagai dimensi kehidupan.
Membangun Simeulue yang Berkah.
Semoga Idul Adha 1446 H ini menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung dan membenahi diri, mengambil keteladanan dari Nabiullah Ibrahim ‘alaihissalam. Nilai-nilai agung seperti ketakwaan, pengorbanan, kepemimpinan yang mementingkan keamanan dan ekonomi masyarakat, serta semangat al-itsaar harus menjadi bekal kuat dalam membangun kehidupan yang lebih baik, harmonis, dan penuh keberkahan di Pulau Simeulue Ate Fulawan yang kita cintai. Pulau ini telah diberkahi Allah dengan keindahan alam, laut yang luas, hasil bumi yang melimpah, dan masyarakat yang penuh semangat gotong royong. Maka, mari kita rawat karunia ini dengan ketakwaan, persatuan, dan semangat kebersamaan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabiullah Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memikul amanah, melanjutkan warisan nilai para nabi, dan menghidupkan makna pengorbanan dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekedar memperingati.



Baca Berita Terkait Khutbah ‘Idul Adha di Masjid Agung Tgk. Khalilullah Kabupaten Simeulue

Tinggalkan komentar