Revitalisasi Manajemen Pendidikan Melalui Integrasi Mutu Terpadu Sebagai Strategi Pengembangan Sekolah Berdaya Saing Global (Prof. Dr. Nasir Usman, M.Pd.)

26
Feb 2025
Kategori : Pengukuhan
Penulis : Ansaruddin, S.Pd.I., M.Pd.
Dilihat :55x

Prof. Dr. Nasir Usman, M.Pd.
Pidato Pengukuhan Jabatan Profesor
dalam Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan  dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, MA., Kampus Universitas Syiah Kuala,
Darussalam – Banda Aceh 26 February 2025


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, washshalatu wassamu’ala asyrafil anbiya wal mursalin, wa ‘ala allihi washahbihi ajma’in
Rabbishrahli shadri wayassirli amri wahlulu ‘uqdatan millisani yafqahu qauli

Yang saya hormati:

Ketua, Sekretaris dan Para Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala Bapak Rektor dan Para Wakil Rektor, Universitas Syiah Kuala.

Para Profesor di Lingkungan Universitas Syiah Kuala

Para Dekan dan Wakil Dekan di Lingkungan Universitas Syiah Kuala

Para tamu undangan yang berbahagia, rekan sejawat di lingkungan Universitas Syiah Kuala, keluarga besar, dan para mahasiswa.

Pertama dan yang paling utama, saya  panjatkan puji dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi segala kemudahan, rahmat dan karunia- Nya buat kita semua sehingga memungkinkan untuk berhadir pada forum mulia ini yaitu Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas dalam rangka Pengukuhan Profesor di lingkungan Universitas Syiah Kuala. Shalawat dan salam mari sama-sama kita sanjung sajikan kepada Baginda Rasullullah Muhammad SAW yang telah menjadi  panutan dan suri tauladan bagi kehidupan kita, dan telah membuka jalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan umatnya.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul: “Revitalisasi Manajemen Pendidikan Melalui Integrasi Mutu Terpadu Sebagai Strategi Pengembangan Sekolah Berdaya Saing Global”

1.  Pendahuluan

Ketua, Bapak Rektor dan Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala yang saya muliakan, serta para hadirin sekalian.

Pada era transformasi digital yang kian berkembang ini, peran sekolah tidak lagi terbatas sebagai tempat untuk menyampaikan pengetahuan saja, tetapi juga berperan sebagai wadah yang mempersiapkan generasi Indonesia yang berkompetensi dan berkarakter. “Sekolah diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi, menumbuhkan kreativitas, serta terciptanya kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman yang cenderung dinamis dan tak terduga” (Usman, 2011; Wijaya et al., 2021).

Sekolah harus mampu mentransformasikan sistem manajemen pendidikannya agar dapat menjawab tuntutan zaman. “Dengan adanya transformasi manajemen pendidikan mampu memfasilitasi pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masa depan, memaksimalkan kepemimpinan yang visioner” (Murniati, Usman, Irani, 2022). menggunakan teknologi informasi yang mutahir sebagai alat bantu pembelajaran, maka akan mampu menjawab tantangan abad 21.

Tantangan pendidikan abad 21 bukan saja tentang ketersediaan sumber daya yang memadai tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas tahun 2045. “Revitalisasi manajemen pendidikan menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika tersebut” (Murniati,Usman & Irani, 2022).

Namun, sekolah di Indonesia masih menghadapi masalah utama seperti keterbatasan infrastruktur pendidikan. Beberapa daerah, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Sektor pendidikan dihadapkan dengan tantangan peningkatan pengawas, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Masih ada ketimpangan kualitas pendidikan di beberapa wilayah karena tenaga pendidik menerima pendidikan dan pelatihan yang berbeda. Dampak dari kualitas guru yang berbeda-beda ini terasa dalam pembelajaran yang diberikan kepada murid. “Belum lagi kuantitas guru dan tenaga kependidikan yang belum mencukupi di daerah 3T” (Usman, 2007).

Senada dengan berbagai problematika yang dihadapi pendidikan Indonesia, Propinsi Aceh juga menghadapi tantangan besar dalam hal mutu dan relevansi. Di tingkat nasional, kualitas dan relevansi pendidikan dasar dan menengah masih jauh tertinggal di bandingkan dengan provinsi lainnya terutama di Pulau Jawa.  Sementara itu, kesenjangan kualitas dan relevansi antara wilayah perkotaan dan pedesaan sangat mencolok. “Berdasarkan profil mutu pendidikan Provinsi Aceh Tahun 2023 yang diterbitkan oleh BPMP (2023), terdapat beberapa akar masalah untuk masing-masing jenjang pendidikan” (Yana et al., 2023).

  1. Jenjang PAUD
    Terdapat tiga indikator prioritas akar masalah yang dihadapi jenjang pendidikan anak usia dini meliputi angka partisipasi murni (5-6 tahun), kesenjangan angka partisipasi sekolah (APS) pada rentang usia (5-6 tahun) berdasarkan kuantil status ekonomi, angka partisipasi kasar (APK) PAUD berdasarkan kelompok gender.
  2. Jenjang Sekolah Dasar
    Pada jenjang sekolah dasar teridentifikasi sembilan akar masalah mutu yang mencakup kemampuan literasi, numerasi, karakter, kesenjangan literasi dan numerasi, APM, iklim keamanan sekolah, dan iklim kebhinekaan.
  3. Jenjang SMP
    Pada jenjang SMP terdapat tujuh belas akar masalah pendidikan diantaranya kesenjangan APK, indeks distribusi guru yang rendah, kebutuhan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang berkualitas, serta rendahnya proporsi PTK dan guru penggerak yang diusulkan, pelatihan luring PTK masih kurang memadai, penggunaan TIK untuk pengelolaan anggaran dan kebijakan sekolah belum optimal, serta rendahnya angka partisipasi warga sekolah.
  4. Jenjang SMA
    Adapun pada jenjang SMA terdapat beberapa permasalahan utama diantaranya kesenjangan kemampuan literasi, kemampuan numerasi, Angka Partisipasi Sekolah (APS), iklim kebhinekaan dan inklusivitas, indeks distribusi guru yang tidak merata,  dan kualitas pembelajaran menjadi poin prioritas untuk ditangani lebih lanjut.

Berangkat dari berbagai permasalahan yang dikemukakan di atas, sistem pendidikan Indonesia, dan Aceh secara khusus perlu diarahkan agar mampu mentransformasi pendidikan yang lebih baik dan berkelanjutan dengan melibatkan kerjasama yang sejajar dan saling berkolaborasi.

Untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi maka prinsip-prinsip yang terkandung dalam arah baru pengembangan pendidikan nasional antara lain: a) kesetaraan perlakuan pembangunan sektor pendidikan dengan sektor lainnya b) pendidikan berorientasi rekonstruksi sosial c) pendidikan sebagai upaya pemberdayaan bangsa d) pemberdayaan infrastruktur sosial guna kemajuan pendidikan nasional e) pengembangan otoritas dan kemandirian berbasis keunggulan, f) menciptakan iklim yang kondusif dan konsensus dalam kemajemukan masyarakat,  g) integrasi perancangan bottom up maupun top-down, h). pendidikan yang berorientasi pada peseta didik, i) pendidikan multicultural, k) pendidikan berskala global (Sumarno, et.al, dalam Jalal dan Supriadi, 2001:5).

2.    Integrasi Manajemen Mutu terhadap Manajemen Sekolah Berdaya Saing Global

Ketua, Bapak Rektor dan Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala yang saya muliakan, serta para hadirin sekalian.

Revolusi Society 5.0 perlu disikapi secara positif dengan memperkuat pengelolaan sekolah yang modern dengan tetap mempertahankan kearifan lokal bangsa Indonesia yang multikultural. Pendidikan harus mampu menghadapi perubahan dalam paradigma pembelajaran, teknologi yang semakin canggih, dan kebutuhan akan keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan global, untuk menjawab itu maka dibutuhkan kolaborasi dan sinergisitas.

Supriatna (2023) “Kolaborasi aktif menjadi elemen yang sangat penting dilakukan antara pemerintah, LPTK, DuDi, masyarakat dan stakeholder lainnya dalam praktik persekolahan dan pembelajaran, juga dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang responsif dan berdaya saing terhadap perubahan global”.

Sekolah berdaya saing adalah institusi pendidikan yang mampu mempersiapkan siswa-siswinya untuk berkompetisi dan berkontribusi dalam skala internasional. “Prinsip utama dari sekolah berdaya saing adalah kualitas pendidikan yang unggul, yang mencakup kurikulum berstandar internasional, pengembangan kompetensi global, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan dunia” (Hayyi, M., Zaen, B., & Hambali, M., 2022).

Karakteristik sekolah berdaya saing meliputi kurikulum yang digunakan sering kali mengadopsi standar internasional seperti International Baccalaureate (IB) atau Cambridge International dan memadukannya dengan kurikulum nasional. “Penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, dan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan keterampilan abad 21” (Nurtanto, M., & Ramdani, S.D., 2016).

Selain itu, “sekolah juga harus memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran yang berkualitas” (Hidayatullah, S., Nuzuluddin, T.R., & Mandaka, M., 2022). Fasilitas ini mencakup ruang kelas yang modern, laboratorium sains dan teknologi, perpustakaan yang lengkap, serta akses terhadap sumber daya digital.

Penyelenggaraan sekolah berdaya saing tinggi terletak pada kualitas yang diciptakan, dan itu memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh pihak terkait, termasuk pemerintah, lembaga  pendidikan, guru, orang tua, dan siswa. Pemerintah berperan dalam menyediakan regulasi dan dukungan finansial berkelanjutan yang memadai untuk pengembangan sekolah ini yang berdaya saing tinggi.

Pada akhirnya, sekolah yang berdaya saing tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pengembangan potensi siswa secara menyeluruh. Sekolah ini bertujuan untuk meningkatkan sistem manajemen persekolahan dan melahirkan generasi muda yang berintegritas, berwawasan luas, berkearifan lokal dan siap menghadapi tantangan global dengan percaya diri.

Sedangkan esensi integrasi manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah menciptakan sekolah unggulan yang tidak hanya kompetitif secara global tetapi juga relevan secara lokal. Dengan integrasi manajemen mutu, sekolah dapat mengintegrasikan prinsip efisiensi, efektivitas, dan adaptabilitas dalam setiap aspek manajemennya.

“Manajemen mutu di sekolah merupakan sebuah proses yang sistematis dan terstruktur, yang dimulai dari tahap perencanaan, implementasi, hingga evaluasi” (Murniati, et.al, 2021). Pada tahap perencanaan, pihak sekolah harus menetapkan tujuan, sasaran, dan standar mutu yang ingin dicapai, serta menyusun strategi dan program kerja untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan mutu sebagai langkah awal manajemen sekolah menjadi panduan dan referensi untuk semua kegiatan dan program yang akan dilaksanakan di sekolah.

Perencanaan dalam pendidikan mencakup banyak hal, seperti perencanaan kurikulum, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, anggaran, serta evaluasi. “Adapun hal-hal yang dapat dipersiapkan sekolah meliputi (1) perencanaan kurikulum, standar kompetensi lulusan, (2) perencanaan SDM, penyusunan program rekrutmen dan pengembangan guru serta staf, (3) perencanaan sarana prasarana, (4) perencanaan anggaran seperti penyusunan rencana anggaran belanja sekolah untuk satu tahun ke depan serta (5) perencanaan evaluasi yang meliputi penyusunan rencana pelaksanaan UTS dan UAS maupun nasional” (Usman, Murniati & Irani, 2022).

Setelah perencanaan matang, tahap selanjutnya adalah implementasi. Pada tahap ini, seluruh program dan kegiatan yang telah direncanakan akan dijalankan secara terstruktur dan terkontrol. Implementasi melibatkan seluruh sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta anggaran yang tersedia.

Tahap terakhir, “dalam siklus manajemen mutu di sekolah adalah evaluasi dan pengendalian” (Jahari, 2018; Rasto, 2012; Subhi, 2020). Pada tahap ini, seluruh program dan kegiatan yang telah diimplementasikan dievaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan dan kesesuaiannya dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hasil dari evaluasi ini akan menjadi masukan bagi perencanaan di tahun berikutnya, sehingga tercipta siklus perbaikan berkelanjutan dalam manajemen mutu di sekolah.

3.  Kepemimpinan Mutu dalam Pendidikan

Ketua, Bapak Rektor dan Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala yang saya muliakan, serta para hadirin sekalian.

Keberhasilan sekolah melaksanakan tugas-tugas kependidikan dan persekolahannya, ditentukan oleh kematangan kepemimpinan kepala sekolah. “Kementrian Pendidikan Budaya Riset dan Teknologi selama ini telah melakukan penilaian untuk melihat seberapa jauh kinerja kepala sekolah, sehingga ditetapkanlah kerangka dan kisi-kisi instrumen penilaian kinerja kepala sekolah, yang terdiri dari berbagai komponen, aspek dan indikator-indikatornya” (Kemendikbud, 2020).

Namun, banyak faktor penyebab kerangka dan kisi-kisi tersebut tidak efektif untuk menemukan dan memotivasi kepala sekolah melakukan tugasnya sesuai dengan tuntutan mutu pendidikan. Untuk memastikan proses pengangkatan, seleksi, dan penilaian kinerja kepala sekolah bebas dari unsur politik, perlu diterapkan mekanisme yang transparan dan berbasis meritokrasi.

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak etis seperti yang dikemukakan di atas maka ada cara yang dapat dilakukan mengacu pada tahapan proses manajemen mutu. Pertama, proses seleksi harus dilakukan oleh panitia independen yang terdiri dari para ahli pendidikan, perwakilan guru, masyarakat maupun stakeholder lainnya yang tidak memiliki afiliasi berbagai kepentingan. Setiap calon kepala sekolah harus melalui serangkaian tes kompetensi dan wawancara yang objektif, dengan fokus pada rekam jejak, kemampuan manajerial, dan visi mereka untuk memajukan sekolah. Selain itu, publikasi kriteria seleksi dan hasil penilaian secara terbuka akan meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap proses tersebut.

Kedua, dalam penilaian kinerja kepala sekolah, perlu dikembangkan sistem evaluasi yang komprehensif dan berkelanjutan, yang mengukur kinerja berdasarkan indikator-indikator yang jelas dan terukur, seperti peningkatan prestasi siswa, pengelolaan sekolah, dan inovasi dalam pembelajaran. Hasil penilaian harus dijadikan dasar untuk pengembangan profesional lebih lanjut bagi kepala sekolah dan, jika diperlukan, tindakan korektif.

Untuk memberdayakan kinerja kepala sekolah, langkah-langkah yang perlu dilakukan meliputi: “memilih kepala sekolah dengan integritas tinggi dan keyakinan diri, memberikan pelatihan kepemimpinan, menerapkan sistem merit dalam pengangkatan, merekrut berdasarkan prestasi dan kredibilitas, menolak penunjukan berbasis status sosial atau jaringan, serta memastikan seleksi melalui tes objektif dan proses yang transparan” (Murniati, 2011).

Dalam konsep ini, “seorang pemimpin memiliki kemampuan untuk mendorong kolaborasi, membangun budaya kerja yang positif, serta memastikan bahwa semua kebijakan dan proses operasional sekolah mendukung visi dan misi pendidikan yang telah ditetapkan untuk menciptakan mutu” (Huda, 2018; Wibowo, 2016).

Walaupun kepemimpinan berorientasi pada mutu sekolah memiliki peran krusial dalam meningkatkan standar pendidikan dan daya saing global, akan lebih baik jika pendekatan tersebut juga mempertimbangkan nilai-nilai kearifan lokal.  “Dalam konteks ke-acehan, kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan di sekolah adalah perpaduan antara kepemimpinan strategik” (Usman, et.al, 2020),  dan spiritual (Usman, Murniati, Irani, 2020) menyatakan “kepemimpinan strategik dan spiritual akan mendorong partisipasi, transformasi, pemberdayaan, inovasi, dan inklusivitas  melalui strategi, aksi, keteladanan, dan nilai-nilai kebajikan berakar pada nilai-nilai lokal yang kuat”.

Lebih lanjut, hal yang sering terlupakan dalam tatanan kepemimpinan persekolahan adalah mengukur kinerja kepala sekolah untuk memastikan bahwa pemimpin sekolah menjalankan tugasnya dengan efektif sesuai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Pentingnya menilai kinerja kepala sekolah adalah karena hal itu dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan yang lebih baik terkait kebijakan pendidikan dan pengelolaan sekolah.

“Pemberian penilaian kinerja kepada kepala sekolah juga memberikan kesempatan untuk memperkuat budaya evaluasi dan peningkatan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah” (Gemnafle & Batlolona, 2021; Jahari, 2018; Munastiwi & Puryono, 2021; Usman et al., 2023). Dengan proses penilaian yang transparan ini menciptakan suasana yang mendukung komunikasi terbuka dan kerjasama, di mana setiap orang merasa memiliki peran dalam mencapai visi dan misi sekolah.

4.  Strategi Peningkatan  Kinerja Guru Secara Berkelanjutan

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti saat ini mengusung konsep deep learning sebagai salah satu pendekatan utama untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dengan fokus pada mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning, sehingga mendorong peserta didik untuk mengalami pengalaman bermakna, kontekstual, dan menyenangkan dalam proses pembelajaran (Suwandi, Putri & Sulastri, 2024).

Gambar 1. Elemen-elemen dalam Deep Learning

Namun, deep learning saja tidak cukup tanpa diimbangi oleh deep teaching, yakni pendekatan pengajaran yang mendalam, inspiratif, dan terarah. Deep teaching menuntut para pendidik untuk merancang pengalaman belajar yang relevan, kontekstual, dan berbasis eksplorasi, sehingga siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Kombinasi deep learning dan deep teaching menciptakan ekosistem pendidikan yang seimbang, di mana pembelajaran tidak hanya berpusat pada hasil akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan abad ke-21 dan pengembangan kompetensi guru yang lebih esensial untuk menghadapi tantangan global.

Pengembangan kompetensi guru di Indonesia memiliki peran krusial dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seiring dengan dinamika pendidikan global, kompetensi guru harus terus ditingkatkan, baik dalam aspek teknologi, pedagogi, maupun sosial-emosional. Proses pengembangan ini harus terintegrasi dengan tahapan manajemen mutu, yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.

5.  Penutup

Ketua, Bapak Rektor dan Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala yang saya muliakan, serta para hadirin sekalian.

Untuk menciptakan institusi pendidikan yang unggul dan relevan, manajemen mutu dalam sekolah merupakan strategi utama. Dengan memadukan standar internasional dalam pengelolaan dan pembelajaran, sekolah dapat menjamin bahwa siswa mendapatkan pendidikan yang dapat bersaing di tingkat global. Namun, keberhasilan sejati hanya dapat dicapai jika kepemimpinan melalui manajemen mutu tersebut juga menghargai dan memanfaatkan kearifan lokal.

Kepemimpinan mutu adalah salah satu aspek kritis yang menentukan keberhasilan manajemen mutu di sekolah. Kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan mutu akan selalu berfokus pada strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui inovasi, implementasi praktik terbaik dan nilai. Kepemimpinan mutu melibatkan kemampuan untuk menginspirasi, memotivasi, dan memberdayakan seluruh elemen internal dan eksternal sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.

Pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan secara berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan. Program pelatihan dan pengembangan profesional yang terencana dengan baik akan membantu guru dan tenaga kependidikan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka. Dengan demikian, mereka dapat mengadopsi metode pengajaran yang inovatif dan efektif, serta merespons kebutuhan belajar siswa secara lebih baik.

Kepala sekolah harus memastikan bahwa setiap guru dan tenaga kependidikan memiliki akses yang cukup terhadap peluang pengembangan profesional. Hal ini termasuk partisipasi dalam workshop, seminar, kursus, dan program sertifikasi yang relevan.

Terakhir, evaluasi dan umpan balik merupakan bagian integral dari pengembangan kompetensi dan manajemen mutu di sekolah. Kepala sekolah harus mengimplementasikan sistem evaluasi yang komprehensif untuk menilai kinerja guru dan tenaga kependidikan. Umpan balik yang konstruktif dapat membantu individu untuk memahami kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan.

Secara keseluruhan, manajemen mutu dalam sekolah, kepemimpinan mutu, dan pengembangan kompetensi guru serta tenaga kependidikan adalah elemen-elemen yang saling terkait dan penting untuk mencapai keunggulan pendidikan. Kepala sekolah yang efektif akan mampu mengintegrasikan ketiga aspek ini secara harmonis untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan.

Berikut adalah beberapa rekomendasi untuk mengimplementasikan manajemen mutu; Pertama, kepala sekolah harus mengembangkan dan menerapkan strategi manajemen mutu yang komprehensif dan berkelanjutan. Ini melibatkan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang konsisten, evaluasi yang menyeluruh, dan perbaikan terus-menerus terhadap semua aspek operasional sekolah. Setiap kegiatan dan program di sekolah harus diukur dan dievaluasi berdasarkan standar mutu ISO 9001 dapat dijadikan acuan untuk memastikan proses ini berjalan efektif.

Kedua, untuk mendukung kepemimpinan mutu, kepala sekolah harus mengembangkan kemampuan kepemimpinan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Ini meliputi kemampuan untuk menginspirasi dan memotivasi staf serta siswa, mengelola perubahan, dan menanamkan budaya mutu di seluruh lingkungan sekolah.

Ketiga, pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan harus menjadi prioritas utama. Sekolah harus menyediakan program pelatihan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Guru dan tenaga kependidikan harus didorong untuk mengikuti workshop, seminar, dan kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Selain itu, sistem evaluasi kinerja yang komprehensif harus diterapkan untuk memberikan umpan balik yang konstruktif dan mendorong peningkatan berkelanjutan.

Terima Kasih

Bapak Ketua, Rektor dan Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala yang saya muliakan, serta para hadirin sekalian yang dirahmati Allah S.W.T.

Pada akhir pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi di dalam pencapaian jenjang jabatan fungsional Profesor saya ini, yang telah memberikan makna yang sangat berarti bagi saya dan keluarga.

1.      Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, beserta para Wakil Rektor yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar (Profesor).

2.      Ketua Senat Akademik Universias (SAU), Prof. Dr. Ir. Abubakar Karim, dan seluruh anggota SAU yang telah mencermati usulan Profesor saya dan Komisi A yang telah memverifikasi dokumen usulan berdasarkan hasil validasi dari Tim validator internal (Asesor PAK Nasional dari Universitas Syiah Kuala).

3.      Dekan FKIP USK Dr. Syamsulrizal, M.Kes, dan Para Wakil  Dekan, Para Ketua Prodi FKIP, Para Dosen, Para Mahasiswa, dan semua  pihak yang telah memberikan dukungan, diskusi kepada saya, sehingga saya bisa memperoleh Guru Besar.

4.      Direktur Pascasarjana, Para Wadir, Ketua Program Studi Magister Administrasi Pendidikan, Dosen, Para Alumni, dan Mahasiswa yang telah memberikan dukungan dan kebersamaan kepada saya. 

5.      Kepala Biro dan Staf Kepegawaian USK Ibu Siti Aminah, Ibu Wita, Yusrizal, Fahrul yang telah membantu kelancaran proses pengusulan Profesor saya

6.      dan memberikan banyak masukan dalam usulan Profesor saya.

7.      Ketua PPAK Universitas Syiah Kuala serta Tim PPAK FKIP yang telah membantu dalam pemeriksaan usulan Profesor saya.

8.      Para Guru Besar di Lingkungah FKIP USK khususnya Prof. Dr. Muhammad Harun, M.Pd., Prof. Dr. Yuyun Qismullah Yusuf., Prof. Dr. Djufri, M,Si, Prof. Dr. Asnawi, M.Ed. Prof. Dr. Bakhrun, M.Pd, Prof. Dr. Rusli Yusuf, M.Pd,, Prof. Dr. Mailizar, Prof. Dr. Adlim, M.Si., Prof. Dr. M. Hasan, M.Si, Prof. Dr. Yusri Yusuf, M.Pd., Prof. Dr. Wildan, M.Pd., Prof. Dr. Sofyan A Gani, M.Pd., yang telah banyak memberi masukan dalam persiapan pengusunal Profesor saya.

9.      Rasa hormat dan terimakasih saya sampaikan kepada guru-guru dan dosen yang telah membimbing dan memberikan pencerahan kepada saya dari tingkat SD Samuti Lancang, SMP Negeri Gandapura, SMA Negeri 2 Bireuen, S1 FKIP USK, S2 IKIP Bandung, dan S3 Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

10.   Drs. Rusli M, Nuh, MA, Alm. Drs. Nurdin Nafi, Prof. Dr. Cut Zahri Harun, M.Pd, Alm. Dr. Djailani AR, M.Pd, Drs. M. Yahya Ahmad, M.Pd, Alm Drs. Mustafa Juned, Alm Drs Mustafa Amin, yang telah berjasa membimbing saya dalam penyelesaian studi di Jurusan Administrasi Pendidikan FKIP Universitas Syiah Kuala. Semoga ilmu yang diajarkan menjadi pahala yang terus mengalir untuk Beliau.

11.   Prof. Dr. Mohammad Fakry Gaffar M.Ed. dan Prof. Dr. Achmad Sanusi, MA yang telah membimbing saya sebagai mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan di Pascasarjana IKIP Bandung Semoga ilmu yang diajarkan menjadi pahala yang terus mengalir untuk Beliau.

12.   Prof. Dr. Tb. Abin Makmun Syamsuddin, M,A, Prof. Dr. Nanang Fattah, M.Pd, dan Alm Prof. Idochi Anwar, M.Pd. sebagai Promotor dan Ko-Promotor saat studi Doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia, yang telah memberi saya banyak pengalaman riset dan ilmu pengetahuan di bidang Administrasi Pendidikan. Semoga Allah SWT membalas jasa beliau.

13.   Para sahabat yang selalu membantu dan memberikan dukungan Dr. Niswanto, M.Pd., Dr. Khairudin, M.Pd., Dr. Suparta Rasyid, M.Pd., Dr. Ramli Gadeng, M.Pd., Dr. Ismail, M.Pd., Dr. Nazaruddin, SE., M.Ed.,  Dr. Samingan, M.Si,  Ulfah Irani, S.Pd., M.Pd., yang telah membantu dalam banyak hal termasuk dalam pengusulan Profesor. Semoga silaturrahmi ini terus terjalin dan membawa berkah buat kita semua.

14.   Rasa penghargaan yang tinggi dan tulus saya sampaikan kepada yang mulia ayahanda Almarhum Usman Makam dan Almarhumah Ibunda Tihawa Abdurrahman,  atas perjuangan, didikan, bimbingan, serta kasih sayang mereka telah mengantarkan saya untuk meraih predikat tertinggi dalam bidang akademik sebagai Guru Besar. Terima kasih juga saya sampaikan kepada ayah mertua saya  Almarhum Tgk. H. Abdurrahman dan Almarhumah Ibu mertua Hajjah Kamilah yang telah memberikan dukungan yang sangat besar bagi kami sekeluarga. Semoga semua pahala melimpah kepada orangtua dan mertua yang saya sayangi dan hormati.

15.   Penghargaan dan terima kasih tak terhingga saya haturkan kepada isteri tercinta, Prof. Dr. Murniati AR, M.Pd., yang dengan doa, dukungan, dan kesetiaan, selalu menjadi sumber kekuatan bagi saya. Di tengah perjuangan beliau untuk sembuh, melalui berbagai rangkaian pengobatan, operasi, dan pemulihan, beliau tetap hadir mendampingi saya di momen istimewa ini, menunjukkan kasih sayang dan pengorbanan luar biasa yang selalu menginspirasi langkah saya.

16.   Terima kasih dan penghargaan kepada kedua putra saya drg. Ilham Mulkhairul, SP.Ort., bersama isterinya Febi Ruqayyah Febriana yang dianugrahi 3 orang cucu (Al Mahyira, Achmad Al Fatih, Achmad Al Faruqi), dan Ananda Ikhsanuddin Basili bersama isteri dr. Raisa Putri Arsyad, atas doa, pengertian, kesabaran, dukungan, kesetiaan, dan kasih sayang yang telah kalian berikan mengantarkan ayah untuk berdiri di mimbar yang terhormat ini.

17.   Ucapan penghargaan yang setulusnya kepada keluarga besar dari Gandapura Adinda Muhammad Ali dan dari Simeulue Adinda Rosminah AR, serta semua ponaan yang disayangi. Terimakasih kalian semua atas doa dan dukungan yang terus menerus telah diberikan kepada kami selama ini.

18.   Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua yang berhadir pada hari ini. Semoga  Allah Swt, senantiasa memberi  hidayah dan berkah dalam setiap langkah dan usaha hambanya. Aamin ya Rabbal Alamin.

Ketua, Bapak Rektor dan Anggota Senat Akademik Universitas Syiah Kuala yang saya muliakan, serta para hadirin sekalian.

Demikian pidato pengukuhan Profesor saya, mudah-mudahan bermanfaat bagi Bapak, Ibu dan para hadirin sekalian. Mohon maaf atas segala kesalahan tutur kata dalam penyampaian pidato ini. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmatNya kepada kita semua, aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Wabillahitaufiq Walhidayah

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

DAFTAR PUSTAKA

AR, Murniati., Usman, N., & Irani Z, U. (2023). Teachers’ Continuing Professional Development (Cpd) in Aceh Province, Indonesia. Cognizance Journal of Multidisciplinary Studies, 3(9), 51–68. https://doi.org/10.47760/cognizance.2023.v03i09.004

Atika Wijaya, Moh. Solehatul Mustofa, Fadly Husain, S. R. F. N. K. (2021). Sosialisasi Program Merdeka Belajar dan Guru Penggerak Bagi Guru SMPN 2 Kabupaten Maros. Jurnal Puruhita, 2(1), 46–47.

BSKAP, K. (2022). Tahapan Implementasi Kurikulum Merdeka di Satuan Pendidikan. Kemendibudristek, 1–16. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/ 2022/07/Tahapan-Implementasi-Kurikulum-Merdeka.pdf

Budiarto, R. (2019). Perencanaan Berbasis Data. September, 60.

Gemnafle, M., & Batlolona, J. R. (2021). Manajemen Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Profesi Guru Indonesia (Jppgi), 1(1), 28–42. https://doi.org/10.30598/jppgivol1issue1page28-42

Huda, S. M. (2018). Kerjasama Guru dan Orang Tua Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1–84.

Irani, U., Murniati, & Khairuddin. (2014). Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Pada Sman 10 Fajar Harapan. 4(2), 58–70.

Jahari, J. (2018). Pengukuran Kinerja Mutu Sekolah Berbasis Balanced Scorecard (Bsc) Di Perguruan Darul Hikam Bandung. Jurnal Administrasi Pendidikan, 25(1), 160–168. https://doi.org/10.17509/jap.v25i1.11582

Kemendikbud. (2020). Perdirjen GTK Nomor 6565 tentang Model Kompetensi Dalam pengembangan Profesi Guru. In Http://Kemdikbud.Go.Id/ (Vol. 1969010819, Issue 021).

Maisyaroh, M., Untari, S., Chusniyah, T., Adha, M. A., Prestiadi, D., & Ariyanti, N. S. (2023). Strengthening character education planning based on Pancasila value in the international class program. International Journal of Evaluation and Research in Education, 12(1), 149–156. https://doi.org/10.11591/ijere.v12i1.24161

Munastiwi, E., & Puryono, S. (2021). Unprepared management decreases education performance in kindergartens during Covid-19 pandemic. Heliyon, 7(5), e07138. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2021.e07138

Murniati, A.R., Usman, Nasir, Irani, U. (2022). Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan kejuruan, Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan sebagai Sekolah Berbasis Sistem Ganda (Dual Based System) dan Kewirasusahawan (School-Based Entrepreneurship).

Murniati, A. R., Nasir, U., & Irani, U. (2022). Who Wants to Be A teacher? Menyiapkan Guru Profesional di Era Global Society 5 . 0.

Rasto. (2012). Faktor determinan mutu kinerja sekolah. Pendidikan Manajemen Perkantoran, Universitas Pendidikan Indonesia, 1–22.

Subhi, I. (2020). Urgensi Upaya Menjaga Mutu Pembelajaran di Tengah Pandemi Covid 19. Edification Journal, 3(1). https://doi.org/10.37092/ej.v3i1.213

Suwandi, Putri, R, &Sulastri. 2024. Inovasi Pendidikan dengan Menggunakan Model Deep Learning  di Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Kewarganegaraan dan Politik, Vol.2, No.2, Desember 2024, 69-77.

Usman, N. 2007. Manajemen Peningkatan Kinerja Guru. Bandung: Mutiara Ilmu.

Usman, N. 2011. Manajemen Peningkatan Mutu Kinerja Guru. Konsep, Teori, dan Model. Bandung: Citapustaka Media Perintis.

Usman, N., Abdurrahman, M., Niswanto, Zakaria, U. I., & Yusuf, Y. Q. (2023). Did quality of education exist during the COVID-19 pandemic? A study of integrated total quality management of high schools in Aceh, Indonesia. Cogent Education, 10(2). https://doi.org/10.1080/2331186X.2023.2282222.

Usman, N, Murniati,A.R, Irani, U. (2020). The Principal Strategic Leadership on Teachers’ Professional Development at Junior High Schools in Banda Aceh. Journal of Critical Reviews, Vol.7 , 2020.

Usman, N., & Murniati, A. R, Irani, U. (2021). Spiritual Leadership Management in Strengthening the Character of Students in Integrated Islamic Primary Schools. 526(Icream 2020), 421–427.

Wibowo, N. (2016). Upaya Memperkecil Kesenjangan Kompetensi Lulusan. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 23(1), 45–50. https://journal.uny.ac.id/index.php/jptk/article/view/9354

Yana, M. S., Stat, S., Shiddiq, M., Stat, S., Kurniati, N., & Pd, M. (n.d.). Balai Penjaminan Mutu Pendidikan ( BPMP ) Provinsi Aceh . Profil Mutu Pendidikan Provinsi Aceh Tahun 2023 . Tim Penyusun Profil Mutu Pendidikan Aceh Tahun 2023 Editorial Team for the 2023 Aceh Education Quality Profile Balai Penjaminan Mutu Pendidikan ( BPMP ) Provinsi Aceh | 1.

Tidak ada komentar

Tinggalkan komentar